Translate

Rabu, 23 Desember 2015

JEJAK RASUL (timeline)

Timeline PERJALANAN RASULULLAH

570 M

Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Makkah

~

595 M

Muhammad SAW menikahi Khadijah.

610M

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira.

610-613M

Berdakwah Secara Sembunyi-sembunyi

614M

Berdakwah Secara Terang-terangan

615M

Hijrah Pertama ke Habsyah

616M

Hamza dan Umar menerima Islam. Hijrah kedua Abysinnia.

616M

Pemboikotan total Oleh Kaum Quraisy Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib

620M

Tahun Duka : Siti Khadijah dan Abu Talib Meninggal Dunia, Paceklik panjang, Penolakan Da’wah oleh penduduk Tha’if, Intimidasi semakin Menjadi-jadi

620M/621M

Peristiwa Isra’ Mi’raj.

621M

Perjanjian Aqabah 1

622M

Perjanjian Aqabah 2

622M / 1H

Hijrah ke Madinah

622M / 1H

Berdirinya Masjid Quba, masjid pertama dalam islam

623M / 2H

Perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Arah Masjidil Haram (Al-Baqarah 144)

623M / 2H

Perang Badar

623M / 2H

Pertempuran Bani Qainuqa

624M / 3H

Perang Uhud

625M / 4H

Perang melawan bani nadhir

626M / 5H

Perang Khandaq

626M / 5H

Perang melawan bani Quraizhah

627M / 628M

Perang melawan bani mustholiq

628M / 7H

Perang Hudaybiyah

628M / 7H

Perjanjian Hudaybiyah

628M / 7H

Perang Khaybar

629M / 8H

Perang Mut'ah

629M / 8H

Penaklukan Makkah, Perang Hunain

630M / 9H

Perang Tabuk

632M / 11H

Haji Wada

632M / 11H

Nabi Muhammad SAW Wafat Pada usia 63 Tahun

633M / 11H

Al-Qur’an dikumpulkan dalam bentuk sebuah buku

Senyum itu Murah dan Mudah

Hikmah Senyum

Nabi Muhammad saw telah bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Hadits Riwayat At Tirmidzi dalam sahihnya. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan seorang suami yang penuh canda dan senyum dalam kehidupan rumah tangganya.. Aisyah Radliyallahu’anha mengungkapkan, ”Adalah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam ketika bersama istri-istrinya merupakan seorang suami yang paling luwes dan semulia-mulia manusia yang dipenuhi dengan gelak tawa dan senyum simpul.” (Hadits Riwayat Ibnu Asakir)

Aisyah Radliyallahu’anha bercerita, yang artinya,

“Tidak pernah saya melihat Raulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (HaditsRiwayat Al-Bukhari)

Diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu Rasulullah SAW menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata,

”Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (Riwayat At-Tirmidzi)

"Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah." (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)

Hadits ini mengajarkan kita betapa hal kecil yang sering kita nggap sepele dan kita abaikan ternyata memiliki nilai yang berharga dalam pandangan agama. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan Ad-Dailamy, Rasulullah SAW bersabda:

”Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak: tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahyi munkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.”

Anas bin Malik bertutur:

“Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw, saat itu beliau memakai selimut dari daerah Najran yang ujungnya sangat kasar. Tiba-tiba ia ditemui seorang Arab dusun. Tanpa basa basi, laki-laki dusun itu langsung menarik selimut kasar Rasulullah saw itu keras-keras sehingga aku melihat bekas merah di pundak Rasulullah saw... Laki-laki dusun tersebut berkata, ‘Suruh orang-orangmu untuk memberikan harta Allah kepadaku yang kau miliki sekarang.’ Rasulullah saw lalu berpaling kepada laki-laki tadi. Sambil tersenyum, beliau bersabda, ‘Berilah laki-laki ini makanan apa saja’.” (HR Bukhari)

Tersenyum merupakan salah satu cara yang paling mudah untuk mengurangi stres dan menambah teman. Tapi ternyata ada 10 manfaat lain dari tersenyum bagi kesehatan seseorang, Seperti diketahui dibutuhkan lebih sedikit otot wajah untuk membuat seseorang tersenyum dibanding cemberut. Beberapa ahli menyatakan dibutuhkan 43 otot untuk cemberut dan hanya 17 otot untuk tersenyum. Namun beberapa lainnya menyebutkan dibutuhkan 62 otot untuk cemberut dan hanya 26 otot untuk tersenyum,Selain itu tersenyum juga bisa meningkatkan kesehatan seseorang dan membuat hidupnya lebih menyenangkan. Berikut ini beberapa manfaat yang bisa didapatkan seseorang dengan tersenyum, yaitu:

Senyum membuat seseorang lebih menarik

Secara tidak sadar senyum bisa membuat orang lebih menarik karena ada faktor daya tarik tertentu dan membuat seseorang terlihat lebih baik dibanding mengerutkan kening, cemberut atau meringis.

Senyum bisa mengubah suasana hati

Tersenyum bisa mengelabui tubuh sehingga membantu seseorang mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik. Untuk itu jika merasa sedih, cobalah untuk tersenyum.

Senyum bisa menular

Tersenyum tak hanya mengubah suasana hati orang tersebut tapi juga orang-orang disekitarnya, dan membuat hal-hal menjadi lebih bahagia. Ini karena senyum bisa menular dan membawa kebahagiaan bagi orang lain.

Senyum bisa meredakan stres

Orang yang stres bisa terlihat dari wajahnya, tapi dengan tersenyum bisa mencegah seseorang tampak letih dan lelah. Jika sedang stres, cobalah ambil waktu untuk tersenyum, karena bisa mengurangi stres sehingga lebih mampu mengambil tindakan.

Senyum meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Tersenyum bisa membantu sistem kekebalan tubuh untuk bekerja lebih baik. Ketika seseorang tersenyum maka fungsi imun meningkat yang membuat seseorang merasa lebih rileks dan terhindar dari penyakit seperti flu dan pilek

Senyum menurunkan tekanan darah

Ketika tersenyum maka ada penurunan nilai tekanan darah yang terukur. Cobalah mengukur tekanan darah saat duduk di rumah sambil membaca, lalu tersenyum selama 1 menit dan mengukur tekanan darah kembali, maka akan terlihat perbedaan.

Senyum bisa melepaskan endorfin, penghilang rasa sakit dan serotonin Studi telah menunjukkan senyum bisa melepaskan endorfin, senyawa yang bisa mengurangi rasa sakit secara alami dan serotonin. Ketiganya bisa membuat orang merasa lebih baik dan menjadi obat yang alami.

Lipatan senyum di wajah bisa membuat orang terlihat lebih muda

Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum bisa membantu mengangkat wajah sehingga membuat orang tampak lebih muda. Karenanya cobalah lebih sering tersenyum yang membuat merasa lebih muda dan lebih baik.

Tersenyum bisa membuat orang terlihat sukses

Orang yang tersenyum akan terlihat lebih percaya diri sehingga lebih dipromosikan, selain itu pasang senyum di setiap pertemuan akan memiliki reaksi yang berbeda.

Senyum bisa membantu orang tetap positif

Senyum akan membuat orang lebih positif dan mengurangi pikiran negatif. Dengan mengurangi depresi, stres dan khawatir maka kesehatan seseorang juga akan meningkat dan menghindarinya dari berbagai risiko penyakit.

PEMALU itu - (Karakter Rasulullah SAW)

Pemalu

"Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam itu lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, niscaya kami dapat mengetahui ketidak sukaan beliau itu dari wajahnya." (HR. Al-Bukhari). 
Sifat pemalu, menurut pengertian para Ulama, selalu berontak kepada sifat-sifat tercela, pantang menolak kebenaran & takut mengkebiri hak-hak orang lain. Ia selalu cenderung mengikuti seruan petunjuk Nabi yg dipahami dari hadist-hadistnya, selalu melakukan kebaikan & menghargai pelaku kebaikan. Ia menuntun kepada sikap & tindakan yg berguna di dalam masyarakatnya.

Umron bin Hashim RA mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Sifat pemalu itu tidak mendatangkan sesuatu apapun kecuali kebaikan"(HR Muttafaq alaih). Dan dalam riwayat Muslim, dengan ucapan yg sedikit berbeda :
"sifat pemalu itu seluruhnya mengandung kebaikan". 

Dari Abu Hurairah RA, diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"iman itu mempunyai 71 atau 61 cabang. dan yg paling utama adalah mengucapkan Laa ilaaha illallah (tiada Tuhan kecuali Allah), dan serendah-rendahnya adalah menyingkirkan duri (gangguan dari jalan). Dan sifat pemalu merupakan satu bagian dari iman" (HR Muttafaq alaih).

Seorang muslim yg benar/jujur selalu mengisi hidupnya dg cara terdidik, halus perasaan, tak terbersit dalam hatinya niat untuk melakukan perbuatan tercela yang dapat mengganggu orang lain, & tidak pula mengkebiri hak orang lain. Yang demikian itu bahwa semua sifat tercela itu dapat terkubur oleh sifat pemalu. Tidak cukup rasa malu itu hanya tertuju kepada manusia, tetapi bahkan lebih besar di hadapan Allah. Karena sifat pemalu itu, dia tidak berkenan mencampur adukkan keimanannya dengan kezaliman. Disinilah jelas bahwa sifat pemalu merupakan cabang dari iman.

Minggu, 20 Desember 2015

Solusi Moral via Sirah Sahabat Rasulullah SAW

* Said Bin ‘Amir Al Jumahi *


“Said bin ‘Amir Adalah Seorang yang Sanggup Membeli Akhirat dengan Dunia. Ia Adalah Orang yang Mendahulukan Allah Dan Rasul-Nya Daripada Siapapun.” (Ahli Sejarah)


Seorang pemuda bernama Said bin ‘Amir Al Jumahi adalah salah satu dari ribuan orang muallaf yang datang dari daerah Tan’im daerah luar Mekkah demi memenuhi undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pembunuhan Khubaib bin ‘Ady salah seorang sahabat Muhammad SAW setelah mereka berhasil menangkap Khubaib dengan cara menipunya.

Jiwa muda dan kekuatan yang dimilikinya membuat Said mampu menerobos kumpulan manusia saat itu, sehingga ia dapat berdiri sejajar dengan para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyanbin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lainnya yang menyaksikan pemandangan saat itu.

Kesempatan itu membuat Said dapat melihat para tawanan suku Quraisy yang sedang terikat. Tangan para wanita, anak-anak dan pemuda mendorong tubuh Said masuk ke arena pembunuhan, di tempat para suku
Quraisy melakukan balas dendam kepada Muhammad lewat diri Khubaib, dan sebagai balas dari para anggota suku Quraisy yang mati dalam perang Badar.

Saat kerumunan yang sesak itu sampai ke tempat pembunuhan dengan membawa tawanan. Berdirilah pemuda yang bernama Said bin ‘Amir Al Jumahy dengan tegaknya dihadapan Khubaib. Ia menyaksikan Khubaib berjalan ke arah kayu yang telah dipancangkan. Said mendengar suara Khubaib yang tenang diantara jeritan dan teriakan para wanita dan anak-anak. Khubaib berkata: “Dapatkah kalian mengizinkan aku untuk melakukan shalat dua rakaat terlebih dahulu...?”
Said lalu memperhatikan
Khubaib saat ia menghadap kiblat dan melakukan shalat dua rakaat. Betapa
bagus dan sempurna dua rakaat shalat yang dikerjakannya.

Said juga memperhatikan saat Khubaib menghadap para pemuka Quraisy seraya berkata:
“Demi Allah, kalau kalian tidak menduga bahwa aku akan memperpanjang shalat karena merasa takut mati, pasti aku akan memperbanyak bilangan shalat tadi.”

Said menyaksikan kaumnya dengan kedua mata kepalanya saat mereka memotong bagian tubuh Khubaib yang masih hidup. Mereka memotong setiap bagian tubuh Khubaib sambil berkata kepadanya:
“Apakah kau ingin Muhammad menggantikan posisimu ini dan engkau akan selamat karenanya?”.
Ia menjawab (padahal darah mengalir di sekujur tubuhnya):
“Demi Allah, aku lebih suka menjadi pengaman dan meninggalkan istri dan
anakku, daripada Muhammad di tusuk dengan duri.”
Maka semua manusia yang hadir saat itu mengacungkan tangan mereka ke langit, seraya berteriak sengit: “Bunuh dia... bunuh dia!”

Lalu Said bin ‘Amir menyaksikan dengan mata kepalanya senidir bahwa Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang kayu seraya berdo’a:
“Allahumma ahshihim adadan waqtulhum badadan wa la tughadir minhum ahadan (Ya Allah, hitunglah satu demi satu mereka semua. Bunuhlah mereka secara kejam. Janganlah kau sisakan satu orangpun dari mereka).”

Khubaibpun meniupkan nafasnya yang terakhir. Pada tubuhnya banyak sekali bekas luka pedang dan tombak yang tidak bisa dihitung manusia.

Suku Quraisy pun telah kembali ke Mekkah, dan mereka semua sudah lupa akan bangkai tubuh dan proses pembunuhan Khubaib.
Akan tetapi dalam diri seorang pemuda yang hampir baligh bernama Said bin ‘Amir Al Jumahy tidak pernah hilang bayangan Khubaib sesaatpun.

Said sering kali melihat Khubaib di kala tidur. Saat terjagapun, Said sering melihatnya dengan ilusi. Tergambar di benak Said saat Khubaib melakukan shalat dua rakaat yang begitu tenang dan nikmat didepan kayu yang terpancang. Said mendengar getaran suara Khubaib di telinganya saat Khubaib berdo’a untuk kehancuran suku Quraisy. Said menjadi khawatir terkena petir dibuatnya, atau takut terkena hujan batu yang jatuh dari
langit karenanya.


Lalu Khubaib seperti telah mengajarkan Said apa yang belum diketahui sebelumnya.
Khubaib mengajarkannya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah dan jihad di jalan akidah hingga mati.
Khubaib mengajarkannya bahwa iman yang mantap akan menimbulkan banyak keajaiban dan mukjizat.
Khubaib juga mengajarkannya hal lain, yaitu bahwa pria yang dicintai oleh para sahabatnya dengan cinta seperti ini tiada lain adalah seorang Nabi yang didukung oleh langit.

Pada saat itu pula, Allah Swt melapangkan dada Said bin Amir untuk memeluk Islam. Maka ia berjalan menghampiri kerumunan manusia dan mengumumkan keterlepasan dirinya dari perbuatan dosa yang telah dilakukan suku Quraisy, dan ia berikrar akan meninggalkan segala berhala yang pernah disembanya dan ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.

Said turut ikut berhijrah ke Madinah, dan ia senantiasa mendampingi Rasulullah Saw. Ia pun turut dalam perang Khaibar dan perang-perang lain setelah itu.

Setelah Nabi Saw kembali keharibaan Tuhannya, Said menjadi pedang terhunus bagi Khalifah pengganti Rasul yaitu Abu Bakar dan Umar, dan ia menjadi satu-satunya contoh bagi orang yang beriman yang berniat membeli kehidupan akhirat dengan dunianya. Ia rela mendahulukan Allah dan pahala yang akan diberikan daripada semua keinginan nafsu syahwat badan.

Kedua khalifah Rasulullah Saw mengetahui dengan baik kebenaran dan ketaqwaan yang dimiliki oleh Said. Mereka berdua sering mendengarkan dengan serius setiap nasehat dan ucapan Said.

Said mendatangi Umar saat Umar baru menjadi khalifah. Said berkata kepadanya:
“Ya Umar, Aku berwasiat kepadamu agar engkau takut kepada Allah dalam urusan manusia. dan janganlah engkau takut kepada manusia dalam urusan Allah. Ucapanmu jangan pernah menyalahi perbuatanmu, sebab ucapan yang terbaik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan. Ya Umar, perhatikanlah dengan baik orang yang telah Allah percayakan kepadamu urusannya dari kaum muslimin baik mereka yang jauh ataupun yang dekat.Cintailah mereka sebagaimana engkau menyayangi dirimu dan keluargamu. Buatlah mereka membenci apa yang engkau dan keluargamu benci. Goncanglah kumpulan manusia untuk menuju kebaikan, dan janganlah engkau khawatir terhadap kecaman orang selagi di jalan Allah.”
Umar pun bertanya:
“ Siapa yang mampu melakukan itu, wahai Said?”
Said menjawab:
“Yang mampu melakukan itu adalah orang sepertimu yang telah diberikan Allah kepercayaan untuk mengurusi permasalahan ummat Muhammad.
Tidak ada lagi jarak antara orang seperti dengan Allah.

Sejurus kemudian Umar mengajak Said untuk menjadi salah seorang pembantunya seraya berkata:
“Ya Said, Kami mengangkatmu menjadi wali (gubernur) daerah Himsh.”
Said menjawab:
“Ya Umar, Demi Allah janganlah engkau menimpakan fitnah (ujian) padaku.”
Umar pun menjadi berang seraya berkata:
“Celaka kalian... kalian meletakkan kepemimpinan ini di leherku, kemudian kalian mau lepas tangan dariku!! Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.”

Kemudian Umar mengangkat Said menjadi wali di daerah Himsh seraya bertanya:
“Bolehkah kami menentukan gaji buatmu?”
Said menjawab:
“Apa yang akan aku lakukan dengan gaji
tersebut wahai Amirul Mukminin? Sebab gaji dari baitul maal melebihi kebutuhanku.”
Dan akhirnya Said pun berangkat ke Himsh.

Sedikit sekali uang yang dibawa oleh Said bin ‘Amir hingga tiba saat datangnya beberapa orang dari penduduk Himsh yang dipercaya oleh Amirul Mukminin. Amirul Mukminin berkata kepada mereka:
“Tuliskan nama-nama orang miskin kalian sehingga dapat aku cukupkan
kebutuhannya!”
Mereka pun melaporkan data yang mereka miliki di dalamnya terdapat nama fulan, fulan dan Said bin ‘Amir. Umar bertanya kepada mereka: “Siapakah Said bin ‘Amir ini?”
Mereka menjawab:
“Dia adalah pemimpin kami.”
Umar bertanya:
“Pemimpin kalian termasuk orang fakir?”
Mereka menjawab:
“Benar, Demi Allah lama waktu berjalan
namun di rumahnya tidak ada tungku api menyala.”
Maka meledaklah tangis Umar hingga air matanya membasahi janggut. Kemudian Beliau mengumpulkan uang sebanyak 1000 dinar dan ditaruhnya dalam sebuah
ikatan seraya berkata:
“Sampaikanlah salamku padanya dan katakan padanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan uang ini untukmu agar semua kebutuhanmu tercukupi.”

Datanglah utusan tadi kepada Said dengan barang bawaannya. Said melihat bungkusan itu dan ternyata di dalamnya terdapat banyak uang dinar. Ia menolaknya seraya berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun seolah ia terkena musibah- lalu datanglah istrinya tergopoh-gopoh sambil bertanya:
“Ada apa Said, apakah Amirul Mukminin telah wafat?”
Said menjawab:
“Bahkan lebih dahsyat dari itu.” Istrinya bertanya lagi: “Apa yang lebih dahsyat dari itu?”
Ia menjawab:
“Dunia sudah merasuki diriku untuk merusak akhiratku. Dan kini fitnah sudah menyebar di rumahku.”
Istrinya berkata:
“Kalau begitu, campakan saja hal itu (padahal istrinya tidak tahu tentang uang dinar tadi).”
Said bertanya:
“Maukah kamu menolongku untuk melakukannya?”
Istrinya menjawab:
“Ya.” Maka Said mengambil uang dinar tadi dan ia membaginya dalam beberapa bungkusan kemudian ia bagikan kepada kaum muslimin yang fakir.

Tidak lama berselang, datanglah Umar ra ke beberapa daerah di Syam untuk memeriksa kondisi penduduknya.
Saat ia tiba di Himsh, dan daerah ini disebut Al Kuwaifah sebagai panggilan kecil bagi kota Kufah, dan untuk mempersamakan daerah Himsh dengan Kufah karena banyaknya penduduk yang mengeluhkan kinerja para pegawai dan wali di wilayah mereka sebagaimana yang sering terjadi di Kufah,

Saat Umar tiba di sana,
beberapa penduduk menghampiri Umar untuk memberikan sambutan terhadapnya.
Umar lalu bertanya kepada mereka: “Bagaimana pendapat kalian tentang Amir (pemimpin) di sini?”
Mereka mengadukan keluhan kepada Umar dan mereka menyebutkan 4 kekurangan Amir mereka, setiap 1 masalah lebih besar dari lainnya.
Umar berkisah:
Maka akupun mengumpulkan Amir mereka yaitu Said bin Amir dengan orang-orang tadi.
Dan aku berdo’a kepada Allah agar dugaanku tidak dibuat salah; karena aku menaruh kepercayaan besar kepada Said.
Saat mereka dan pemimpinnya sudah tiba menghadapku, aku bertanya:
“Apa yang kalian keluhkan dari amir kalian?”
Mereka menjawab: “Ia tidak keluar bekerja sehingga hari sudah amat siang.” Aku bertanya:
“Apa komentarmu dalam hal ini, ya Said?”
Ia terdiam sejenak lalu berkata:
“Demi Allah tadinya aku tidak mau mengatakan hal ini. Namun karena ini
harus disampaikan maka akupun akan menceritakannya. Aku tidak punya pembantu di rumah. Setiap kali aku bangun di pagi hari, maka aku harus menumbuk gandum buat keluargaku. Kemudian aku harus mengaduknya dengan perlahan sehingga ia menjadi ragi. Lalu aku buatkan roti untuk
keluargaku. Kemudian aku berwudhu dan keluar untuk mengurusi permasalahan manusia.”
Umar bertanya:
“Lalu apa lagi yang kalian keluhkan terhadapnya?”
Mereka menjawab:
“Ia tidak mau melayani seorangpun pada waktu malam.”  

Umar bertanya: “Apa komentarmu dalam hal ini, wahai Said?” 

Ia menjawab: “Demi Allah, Sungguh aku juga sungkan untuk menceritakan hal ini… Aku telah membagi waktu siangku untuk berkhidmat dalam urusan mereka, dan waktu malamku untuk Allah Swt.” 

Umar bertanya lagi:
“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab:
“Ada satu hari dalam sebulan dimana ia tidak keluar untuk mengurusi kami.” Umar bertanya:
“Apa maksudnya ini, wahai Said?”
Ia menjawab:
“Aku tidak memiliki pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak memiliki baju kecuali yang sedang aku pakai ini. Aku mencucinya sebulan sekali dan aku menunggunya hingga ia kering. Dan pada penghujung hari, baru aku dapat keluar menemui mereka.”
Umar bertanya lagi:
“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab:
“Sering kali ia hilang kesadaran, sehingga ia tidak mengenali orang yang berada di sekelilingnya.” Umar bertanya:
“Apa maksudnya hal ini, ya Said?
” Ia menjawab:
“Aku menyaksikan pembunuhan Khubaib bin ‘Ady pada saat itu aku musyrik, dan aku melihat para penduduk Quraisy memotong jasadnya dan mereka bertanya kepada Khubaib: ‘Apakah kau ingin Muhammad menggantikanmu di sini?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah, aku tidak suka merasa aman dengan istri dan anakku, padahal Muhammad
sedang dicucuk dengan duri’.
Dan aku selalu teringat akan hari itu dan
mengapa aku tidak menolongnya sehingga aku menduga bahwa Allah tidak mengampuniku, maka akupun hilang kesadaran karenanya.
Saat itu Umar langsung berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah
membuat dugaanku kepadanya tidak rusak.” Kemudian Umar mengirimkan 1000 dinar untuknya agar dapat memenuhi segala kebutuhannya. Begitu istri Said melihat uang tersebut, maka ia berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami lewat khidmat yang
kau berikan. Belilah segala kebutuhan hidup kita. Dan carilah seseorang yang mau diupah sebagai pembantu!” 

Said berkata kepada istrinya:
“Apakah kau punya sesuatu yang lebih baik dari itu?”
Istrinya bertanya:
“Apakah itu?”
Said berujar:
“Kita kembalikan lagi kepada orang yang
membawanya, dan hal itu lebih kita butuhkan?”
Istrinya bertanya lagi:
“Apakah itu?”
Ia menjawab:
“Kita pinjamkan uang tersebut kepada Allah sebagai qardhan hasanan (pinjaman yang baik).”
Istrinya menanggapi:
“Benar. Dan engkau akan dibalas dengan kebaikan karenanya.”

Setelah ia meninggalkan majlis maka ia membagikan uang dinar tersebut dalam beberapa bungkus dan ia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya: “Bawalah ini kepada janda fulan, yatim fulan, si miskin fulan dan si fakir fulan.

Semoga Allah meridhoi Said bin ‘Amir Al Jumahy. Beliau adalah salah seorang sosok yang mampu mendahulukan kepentingan orang lain, meski ia berada dalam kondisi yang mendesak.


Untuk dapat mengenal sosok Said bin ‘Amir Al Jumahy lebih jauh dapat merujuk ke:

1. Tahdzib Al Tahdzib 4/51
2. Ibnu Asakir 6/145-147
3. Sifatus Shafwah 1/273
4. Hilliyatul Auliya 1/244
5. Tarikhul Islam 2/35
6. Al Ishabah 2/48 atau profil 3270
7. Nasabu Quraisyin 399